Selasa, 03 Maret 2026

[OPINI] Ketika Pendidikan Tinggi Tak Lagi Sejalan dengan Undang-Undang

[OPINI] Ketika Pendidikan Tinggi Tak Lagi Sejalan dengan Undang-Undang


Kondisi pendidikan tinggi di Indonesia saat ini semakin menunjukkan ketidaksejajaran dengan semangat yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. UU tersebut secara tegas menempatkan pendidikan tinggi sebagai sarana pengembangan potensi manusia yang berlandaskan nilai kemanusiaan, keadilan, demokrasi, serta bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, realitas di lapangan justru memperlihatkan arah yang semakin menjauh dari cita-cita tersebut.

Pendidikan tinggi hari ini cenderung bergerak ke arah komersialisasi dan pragmatisme pasar. Kampus tidak lagi sepenuhnya diposisikan sebagai ruang pembebasan intelektual, melainkan sebagai institusi penyedia jasa pendidikan. Biaya pendidikan yang terus meningkat, sistem UKT yang tidak sepenuhnya transparan, serta logika efisiensi ala korporasi menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan semakin ditentukan oleh kemampuan ekonomi, bukan oleh hak konstitusional warga negara. Padahal, UU No. 12 Tahun 2012 menegaskan prinsip keadilan dan pemerataan akses pendidikan tinggi.

Selain itu, orientasi pendidikan tinggi yang seharusnya menekankan pengembangan keilmuan, karakter, dan daya kritis mahasiswa kini bergeser menjadi sekadar pencetak tenaga kerja. Kurikulum lebih sering disesuaikan dengan kebutuhan industri jangka pendek, sementara ruang untuk berpikir kritis, riset independen, dan keberpihakan pada persoalan sosial masyarakat justru semakin menyempit. Hal ini bertentangan dengan fungsi pendidikan tinggi sebagaimana diatur dalam undang-undang, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung nilai humaniora.

Iklim akademik yang idealnya menjamin kebebasan akademik dan kebebasan mimbar ilmiah juga kerap tereduksi oleh kepentingan birokrasi dan kekuasaan. Kritik mahasiswa dan sivitas akademika sering dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari proses intelektual yang sehat. Padahal, UU No. 12 Tahun 2012 secara jelas melindungi kebebasan akademik sebagai fondasi utama pendidikan tinggi yang demokratis

Dengan kondisi tersebut, saya berpendapat bahwa pendidikan tinggi saat ini sedang mengalami krisis arah dan nilai. Ketidaksejajaran antara praktik pendidikan dan amanat UU No. 12 Tahun 2012 bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan ideologis: apakah pendidikan masih dipahami sebagai hak publik dan sarana pembebasan, atau telah direduksi menjadi komoditas. Jika ketimpangan ini terus dibiarkan, maka pendidikan tinggi akan kehilangan perannya sebagai agen perubahan sosial dan hanya menjadi alat reproduksi ketidakadilan.

*Penulis: Dimas Ahmad Maulana (Ketua Divisi Komunikasi dan Kerjasama HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2026-2027)
Selengkapnya

Minggu, 01 Maret 2026

[OPINI] Menggugat Implementasi Amanah Pendidikan UUD 1945 pada Rezim Pemerintahan Prabowo Subianto

[OPINI] Menggugat Implementasi Amanah Pendidikan UUD 1945 pada Rezim Pemerintahan Prabowo Subianto


Undang undang dasar 1945 
Alinea ke-empat pada pembukaan UUD 1945, tertuang didalamnya salah satu tujuan tertua
indonesia dan juga sebagai amanah untuk pemimpin indonesia adalah “mencerdaskan
kehidupan bangsa”, suatu negara yang besar juga memerlukan sebuah pemimpin yang dapat
menjalankan konstitusi, bukan sekedar menjalankan tetapi melaksanakan apa yang menjadi
amanahnya.

Amanah “mencerdaskan kehidupan bangsa” pada alinea ke-empat pada UUD 1945 juga
diperjelas pada pasal 31 UUD 1945, salah satu poin dalam pasal 31 itu adalah menjamin
anggaran sebesar 20% untuk pendidikan. Artinya ketika kita melihat angka anggaran pendidikan
pada tahun 2025 itu sekitar Rp724,3 trilliun dan di tahun 2026 mengalami kenaikan sebesar 9,8%
dari tahun kemarin, artinya penjaminan anggaran pendidikan sebesar 20% dalam pasal 31 sudah
dilakukan sebaik mungkin tetapi ketika merefleksi kembali apa yang telah dijalankan oleh bapak
prabowo untuk mendukung ambis yang kuat tanpa melihat apa yang menjadi urgent pada
pendidikan yang ada diindonesia,dengan melakukan pemangkas atau mengalihkan dana
anggaran untuk sebuah program MBG sebesar 44% dari anggaran pendidikan atau sebesar
Rp335 triliun dari Rp757,8 triliun dan pengalihan dana sebesar 44% ini dilarikan untuk mengolah
sebuah program yang disebut dengan Makan Bergizi Gratis.

Kepintaran dan kecerdikan bapak presiden untuk mengelolah negara ini sangat perlu di
acungkan jempol dan perlu untuk kita apresiasi karena dalam Rezim prabowo subianto rakyat
ditelanjangi dan dibodohi oleh sebuah program yang berkedok gratis, Makan bergizi Gratis
sebuah nama program yang dari namanya sudah memperlihatkan sikap membodo bodohi, dari
mana asal kata gratis itu sedangkan ketika kita melihat anggaran untuk MBG mengambil atau
memangkas anggaran yang ada dalam anggaran pendidikan indonesia dan anggaran pendidikan
indonesia tidak semerta merta anggaran tersebut langsung ada, anggaran pendidikan berasal
dari APBN atau pendapatan negara yang bersumber dari pajak negara. Jadi ketika kita melihat
skenario yang dibuat oleh bapak prabowo dengan program Makan Bergizi Gratis itu sebenarnya
kita telah ditelanjangi dan dibodohi, apa yang kita bayar kepada negara itu dibuat bahwa negara
memberikan sebuah program dengan gratis.

Dalam hal ini kita tidak heran ketika pendidikan yang ada di indonesia itu sangat terbelakang,
akibat pemimpin negaranya dan ini juga mencederai amanah UUD 1945 untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Merebut kembali apa yang menjadi milik kita  dengan mencopot prabowo
dari jabatan presidennya.

*Penulis: A. Fahrul Ar (Demisioner Ketua Bidang Keilmuan HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2025-2026)
Selengkapnya
[OPINI] RELASI SOSIAL SEBAGAI JEJAK KEBUTUHAN DAN KEKUASAAN DALAM INDONESIA KONTEMPORER

[OPINI] RELASI SOSIAL SEBAGAI JEJAK KEBUTUHAN DAN KEKUASAAN DALAM INDONESIA KONTEMPORER



Sejarah manusia selalu dibangun di atas dua kekuatan yang saling bertaut namun kerap berlawanan yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup dan kecenderungan membangun struktur kekuasaan. Sejak komunitas pemburu-peramu awal, manusia menyadari bahwa hidup sendirian berarti rapuh. Ancaman alam, kelangkaan pangan, dan keterbatasan fisik mendorong manusia membentuk kelompok. Dalam konteks ini, relasi sosial lahir sebagai kebutuhan biologis cara agar spesies bertahan, berbagi peran, dan mengurangi risiko kematian.
 
Namun seiring kelompok manusia membesar dan kompleksitas sosial meningkat, relasi yang awalnya organik perlahan berubah menjadi mekanisme pengaturan. Fenomena ini tidak berhenti di masa lampau, melainkan terus berlangsung hingga masyarakat modern, termasuk di Indonesia hari ini.

Dalam konteks Indonesia, relasi sosial sejak dini dilembagakan melalui keluarga dan pendidikan. Data percakapan publik dan pemberitaan media nasional secara konsisten menunjukkan bagaimana relasi orang tua anak dan guru murid masih beroperasi secara hierarkis. Ungkapan seperti “anak tidak boleh melawan orang tua” atau “guru selalu benar” kerap muncul dalam diskursus publik ketika terjadi kasus kekerasan di sekolah atau pelanggaran hak anak. Relasi yang awalnya dibangun untuk perlindungan dan pewarisan nilai, perlahan berubah menjadi sistem disiplin yang menormalisasi kepatuhan. Dalam kerangka Michel Foucault, kekuasaan di sini tidak hadir sebagai larangan eksplisit, melainkan sebagai praktik sehari-hari yang membentuk tubuh, bahasa, dan sikap tunduk sejak usia dini.

Perubahan relasi menjadi struktur kekuasaan juga tercermin dari dominasi pekerjaan informal di Indonesia, yang menurut rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2025 mencapai sekitar 86,58 juta orang atau 59,40 persen dari total angkatan kerja, lebih besar daripada jumlah pekerja formal. Mayoritas tenaga kerja ini bekerja sebagai pekerja bebas, buruh tidak tetap, atau pengusaha sendiri tanpa perlindungan sosial yang memadai, sementara jumlah pekerja dengan perjanjian kerja tidak tetap sangat dominan dan pekerja formal dengan kontrak permanen relatif sedikit. Kondisi ini menunjukkan bahwa relasi kerja di Indonesia sering kali bukan sekadar hubungan profesional yang setara, tetapi menjadi bentuk ketergantungan hidup jutaan orang bekerja tanpa jaminan upah layak, tanpa jaminan sosial, dan tanpa kepastian hubungan kerja, sehingga kebutuhan dasar mereka menjadi alat struktur yang menahan mereka dalam kondisi yang rapuh dan tidak setara.

Relasi antara negara dan warga negara di Indonesia juga menunjukkan pola serupa. Analisis big data percakapan media sosial setiap kali terjadi demonstrasi mahasiswa atau protes publik memperlihatkan pola komentar yang relatif konsisten: demonstrasi dipersepsikan sebagai gangguan ketertiban, bukan sebagai hak politik. Narasi “demi stabilitas” atau “jangan mengganggu orang mencari nafkah” berulang dalam pemberitaan dan opini warganet. Relasi negara warga yang secara konstitusional bersifat timbal balik, dalam praktiknya bergeser menjadi relasi paternalistik negara diposisikan sebagai figur orang tua, warga sebagai anak yang harus memahami dan menahan diri.

Di ranah moral dan keagamaan, relasi kekuasaan bekerja dengan cara yang lebih halus. Media nasional dan lokal secara rutin memberitakan polemik pakaian perempuan, penghakiman moral di ruang publik, hingga pelabelan sosial terhadap kelompok tertentu. Data pemberitaan menunjukkan bahwa tekanan sosial seringkali tidak datang dari aparat negara, melainkan dari relasi sosial itu sendir seperti dari tetangga, komunitas, tokoh informal. Relasi keagamaan yang semula memberi makna dan solidaritas, dalam praktik sosial berubah menjadi mekanisme normalisasi yang mengatur tubuh, pilihan, dan identitas individu.

Memasuki abad ke-21, relasi sosial di Indonesia mengalami transformasi paling mutakhir melalui ruang digital. Laporan tahunan platform media sosial dan analisis percakapan daring menunjukkan tingginya ketergantungan masyarakat pada validasi digital. Fenomena fear of missing out (FOMO), kecemasan terhadap jumlah likes, dan tekanan untuk terus tampil relevan menjadi pola yang berulang dalam data interaksi daring. Relasi manusia tidak lagi hanya berlangsung antarindividu, tetapi dimediasi oleh algoritma yang mengatur visibilitas, emosi, dan perhatian. Dalam kerangka surveillance capitalism sebagaimana dijelaskan Shoshana Zuboff, relasi sosial telah berubah menjadi komoditas data dipelajari, diprediksi, dan dimonetisasi.

Dari perjalanan ini terlihat bahwa relasi sosial selalu berada di persimpangan antara kebutuhan dan kekuasaan. Ia lahir dari naluri biologis manusia sebagai makhluk sosial, namun berkembang menjadi jaringan struktural yang mengatur perilaku dan ketergantungan. Di Indonesia, mekanisme ini jarang terasa represif karena bekerja melalui kedekatan keluarga, moral, pekerjaan, dan teknologi. Justru karena terasa wajar, relasi semacam ini jarang dipertanyakan.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah manusia membutuhkan relasi sosial karena jawabannya jelas iya melainkan sejauh mana relasi tersebut dibentuk secara sadar oleh individu, dan sejauh mana ia dipilihkan oleh struktur kekuasaan yang bekerja di balik layar sejarah, institusi, dan algoritma.

*Penulis: Magfira (Demisioner Ketua Bidang Keilmuan HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2022-2023)
Selengkapnya

Sabtu, 28 Februari 2026

E-Mading SIGMA edisi Bulan Februari

E-Mading SIGMA edisi Bulan Februari


Teorema Pythagoras: Lebih dari Sekadar Rumus Matematika 📐

Siapa bilang matematika itu membosankan? Di balik rumus a² + b² = c² yang kita hapal sejak SD, ternyata tersembunyi perjalanan panjang peradaban manusia! 🏛️

Fakta menarik yang jarang diketahui:
Bangsa Babilonia dan Cina sudah pakai prinsip ini 4000 tahun lalu untuk bangun sudut siku-siku
Ada tablet bernama Plimpton 322 dari era Raja Hammurabi (1790-1750 SM) yang berisi "Tripel Pythagoras"
Di India disebut Teorema Bhaskara, di Cina namanya Teorema Gougu
Bukti visualnya bahkan ada dalam teks kuno Chou Pei Suan Ching (500 SM - 200 M)

Bayangkan, nenek moyang kita sudah memahami konsep ini jauh sebelum Pythagoras lahir! Mereka menggunakannya untuk membangun monumen megalitik, candi, hingga sistem irigasi. Tanpa teorema ini, mungkin piramida Mesir tidak akan berdiri kokoh hingga sekarang. 🔺

Yang paling keren: Ini adalah contoh sempurna bagaimana matematika menjadi "bahasa universal" yang menghubungkan berbagai peradaban—dari Mesopotamia, India, Cina, hingga Yunani. Bukti bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas geografi dan waktu. 🌏

Jadi, lain kali saat melihat segitiga siku-siku, ingatlah bahwa kamu sedang melihat warisan 4000 tahun peradaban manusia!

#Pythagoras #SejarahMatematika #TriviaEdukasi #MatematikaItuIndah #BelajarSepanjangHayat
Selengkapnya

Rabu, 25 Februari 2026

HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2026-2027 Gelar Rapat Kerja

HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2026-2027 Gelar Rapat Kerja

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar (FMIPA UNM) resmi menggelar Rapat Kerja (Raker) untuk periode kepengurusan 2026-2027. Rapat kerja yang berlangsung di Aula Jurusan Matematika FMIPA UNM dan Aspura II Hipermata ini bertujuan untuk merumuskan dan menyelaraskan program kerja demi kemajuan himpunan serta peningkatan kualitas mahasiswa Matematika.

Kegiatan yang digelar selama 3 hari, Jum'at - Minggu (13-15/2/2026) ini dihadiri oleh jajaran pengurus HMJ Matematika,Dewan Pengawas Organisasi (DPO)dan Warga Jurusan Matematika. Raker ini menjadi agenda strategis untuk memperkuat program kerja yang telah disusun.

Dalam sambutannya, Muh. Hidayat Situru menekankan pentingnya perencanaan yang matang sebagai fondasi organisasi yang kuat. Menurutnya, raker ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk menerjemahkan visi dan misi kepengurusan ke dalam program kerja yang konkret dan berdampak bagi seluruh warga Jurusan Matematika.

"Ini adalah langkah awal kita bersama. Saya berharap seluruh pengurus dapat berdiskusi dengan aktif, kritis, namun tetap konstruktif. Mari kita rancang program yang inovatif, sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, serta mampu membawa HMJ Matematika menjadi rumah belajar dan berproses yang nyaman," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Muh. Hidayat Situru kembali menegaskan komitmennya untuk membawa perubahan positif di internal himpunan. "Raker ini adalah fondasi awal kita. Saya ingin memastikan bahwa setiap program yang lahir dari forum ini benar-benar menjawab kebutuhan mahasiswa, bukan sekadar daftar kegiatan seremonial. Mari kita buktikan bahwa HMJ Matematika bisa menjadi motor penggerak perubahan yang kolaboratif dan inovatif di FMIPA UNM," tegasnya.

Rapat kerja yang mengusung tema "Sinergi Transformasi: Mengintegrasikan Nilai Ilmiah dan Etika Ilahiah dalam Harmoni Kolaborasi HMJ Matematika" ini membahas secara detail program kerja dari setiap bidang. 

Diharapkan, setelah RAKER ini seluruh jajaran HMJ Matematika FMIPA UNM periode 2026-2027 dapat segera bergerak dan merealisasikan program-program yang telah direncanakan, memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan warga Jurusan Matematika.(*)
Selengkapnya

Selasa, 30 Desember 2025

LEBIH DARI SEKADAR LOMBA: GEOMETRI 2025 BEREVOLUSI, BUKA KATEGORI UNIVERSITAS DAN JANGKAU TIGA PROVINSI

LEBIH DARI SEKADAR LOMBA: GEOMETRI 2025 BEREVOLUSI, BUKA KATEGORI UNIVERSITAS DAN JANGKAU TIGA PROVINSI



Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM) resmi menutup rangkaian kegiatan Genius on Mathematics in Real Application (Geometri) di Gedung Sains Square Lt. 12, Minggu (28/9) lalu.

Geometri 2025 diikuti sebanyak 1.048 peserta dengan mengusung tema “Challenge Your Mind, Be The Best in Mathematics Through AI Technology”. Dari jumlah tersebut, 999 peserta mengikuti Lomba Cepat Tepat Matematika (LCTM) yang terdiri dari:

· Tingkat SD: 227 peserta (77 individu, 150 grup)

· Tingkat SMP: 311 peserta (105 individu, 206 grup)

· Tingkat SMA: 461 peserta (103 individu, 358 grup)

Selain itu, terdapat 10 peserta pada Olimpiade Matematika, 15 peserta pada Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), dan 24 peserta pada kegiatan Seminar. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan sekaligus memudahkan peserta dalam beradaptasi dengan teknologi. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan para siswa dan siswi dari berbagai kabupaten semakin semangat dalam belajar matematika.

Kegiatan ini ditutup dengan pengumuman dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba, mulai dari Lomba Cepat Tepat Matematika (LCTM) Individu Sekolah Dasar (SD), LCTM Individu Sekolah Menengah Pertama (SMP), LCTM Individu Sekolah Menengah Atas (SMA), LCTM Group SD, LCTM Group SMP, LCTM Group SMA, Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Mahasiswa, dan Olimpiade Matematika Mahasiswa Tingkat Nasional.

Ketua Jurusan Matematika, Jafaruddin, S. Pd. M. Pd.,Ph.D., memberikan apresiasi kepada panitia Geometri 2025, para peserta, serta orang tua pendamping yang senantiasa mendampingi anak-anaknya.

“Kami menghargai komitmen panitia yang memfasilitasi perlombaan hingga selesai, sekaligus mengapresiasi partisipasi peserta dan kesetiaan para pendamping”, ujarnya.

Di sisi lain, Achmad Fadlan Adhar selaku Ketua Panitia Geometri 2025 menjelaskan bahwa Geometri tahun ini berbeda dengan sebelumnya karena terbuka bagi mahasiswa umum dan diikuti oleh peserta dari tiga provinsi. Achmad Fadlan Adhar berharap, dengan usainya kegiatan ini para peserta menjadi lebih termotivasi dalam belajar matematika.

Senada dengan itu, Nur Ikhsan selaku Ketua Umum HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2025-2026 menuturkan bahwa perubahan tahun ini juga terletak pada cabang lomba yang mengalami penambahan.

“Perbedaan kegiatan tahun ini terletak pada ajang yang sebelumnya tidak diadakan, yakni Olimpiade Matematika tingkat universitas”, tuturnya.

Sementara itu, peraih juara umum LCTM tingkat SMA, Owen Aristo Swrauw, menyebut bahwa perlombaan dalam Geometri 2025 berkesan karena seru dan penuh tantangan. 

GEOMETRI 2025 diikuti oleh peserta dari 27 kabupaten/kota dengan total 1.048 peserta, di mana rayon Makassar menyumbang 498 peserta dan rayon luar Makassar sebanyak 501 peserta. Acara diakhiri dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang dari berbagai kategori, sekaligus menandai berakhirnya rangkaian acara yang telah berlangsung sejak babak penyisihan pertama. GEOMETRI 2025 diharapkan tidak hanya meningkatkan minat siswa dan mahasiswa terhadap Matematika, tetapi juga menjadi platform untuk mempererat hubungan antar sekolah dan universitas.

Dengan semangat dan antusiasme yang tinggi, GEOMETRI 2025 resmi ditutup, namun semangatnya akan terus berlanjut di tahun berikutnya. GEOMETRI selanjutnya siap menyambut peserta dengan tantangan dan inovasi baru yang lebih besar.

Selengkapnya

Rabu, 10 September 2025

Mahasiswa Matematika Angkatan 2024 bersama dengan HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2025-2026 Sukses Gelar Inaugurasi

Mahasiswa Matematika Angkatan 2024 bersama dengan HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2025-2026 Sukses Gelar Inaugurasi

 


Makassar, 6 September 2025 – Mahasiswa Matematika Angkatan 2024 bersama Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2025–2026 telah berhasil melaksanakan kegiatan Inaugurasi. Kegiatan ini dilangsungkan pada Sabtu, 6 September 2025, pukul 18.30 WITA hingga selesai, bertempat di Gedung Mulo, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.


Mengangkat tema “Eksplorasi Mathlantic dalam Layar Angka dan Nalar”, inaugurasi kali ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga wadah untuk mengekspresikan kreativitas dan semangat mahasiswa angkatan 2024. Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I FMIPA UNM, Dr. Awi Dassa, M.Si, yang turut memberikan sambutan dan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.


Sebanyak ±120 orang panitia terlibat dalam menyukseskan acara ini. Dalam sambutannya, Feri selaku ketua panitia menyampaikan harapannya, “Untuk mempersiapkan acara ini, dibutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Namun berkat dukungan dari berbagai pihak, acara ini dapat digelar hari ini. Semoga kegiatan ini dapat menjadi momentum untuk mempererat solidaritas kita sesama mahasiswa jurusan Matematika ”


Di sela kegiatan, Ikhsan selaku Ketua Umum HMJ Matematika FMIPA UNM periode 2025–2026 juga menyampaikan harapannya, “Berakhirnya pasca DKKM ini menjadi awal angkatan 24 untuk bersatu. Saya berharap angkatan 24 terus menjunjung semangat kekeluargaan dan solidaritas sebagai mahasiswa jurusan Matematika FMIPA UNM.”


Rangkaian acara diisi dengan berbagai penampilan yang memukau dan mencerminkan kekayaan budaya serta potensi mahasiswa, di antaranya: angngaru, tari paduppa, tari kreasi, musikalisasi puisi, paduan suara, drama, akustik, hingga flash mob.


Dengan terselenggaranya inaugurasi ini, diharapkan mahasiswa angkatan 2024 semakin solid dan inovatif, serta terus mengembangkan potensi sebagai warga jurusan matematika FMIPA UNM.

Selengkapnya

Minggu, 17 Agustus 2025

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80! Jayalah selalu Indonesiaku! 🇮🇩

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80! Jayalah selalu Indonesiaku! 🇮🇩

 

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 Tahun. 

Tahun 2025 menjadi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia karena memasuki usia ke-80 tahun kemerdekaannya. Peringatan ini bukan hanya sekadar seremonial tahunan, tetapi juga menjadi refleksi perjalanan panjang bangsa Indonesia sejak diproklamasikan merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Delapan dekade kemerdekaan menunjukkan betapa besar pengorbanan, perjuangan, dan semangat persatuan yang telah diwariskan oleh para pahlawan bangsa demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Ir. Soekarno didampingi Drs. Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945 merupakan tonggak lahirnya negara Republik Indonesia. Sejak saat itu, rakyat Indonesia bersama-sama mempertahankan kedaulatan dari ancaman penjajahan serta berjuang membangun bangsa dalam berbagai bidang. Perjalanan menuju 80 tahun kemerdekaan adalah bukti nyata bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri tegak menghadapi tantangan zaman dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Peringatan 80 tahun kemerdekaan mengusung semangat untuk mengenang jasa para pahlawan, memperkokoh persatuan dalam kebhinekaan, serta menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya melanjutkan perjuangan melalui karya, inovasi, dan kontribusi nyata. Momentum ini sekaligus menjadi titik awal menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045, yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan berdaya saing di kancah global.

Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk memeriahkan HUT ke-80 Republik Indonesia, mulai dari upacara bendera, doa bersama untuk para pahlawan, perlombaan rakyat, pawai budaya, hingga festival seni dan musik kebangsaan. Semua kegiatan tersebut mencerminkan rasa syukur, kebersamaan, serta kecintaan rakyat Indonesia terhadap tanah air.

Delapan puluh tahun kemerdekaan merupakan pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk mengisinya. Generasi penerus bangsa memiliki kewajiban untuk menjaga keutuhan negara, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Dengan semangat gotong royong dan persatuan, Indonesia diharapkan mampu mencapai kejayaan di masa depan.

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-80. Semoga semangat kemerdekaan senantiasa menjadi sumber kekuatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk terus berkarya, bersatu, dan berjuang demi terwujudnya Indonesia yang maju, sejahtera, dan berdaulat.

Kami segenap keluarga besar HMJ Matematika FMIPA UNM mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia yang Ke 80 Tahun. 🇮🇩

Selengkapnya

Jumat, 01 Agustus 2025

Sejarah Singkat HMJ Matematika FMIPA UNM

Sejarah Singkat HMJ Matematika FMIPA UNM


Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar (UNM) memiliki perjalanan panjang yang penuh dinamika dan semangat perjuangan mahasiswa. Sejak awal berdirinya hingga saat ini, HMJ Matematika telah mengalami berbagai perubahan nama dan struktur kelembagaan yang mencerminkan perkembangan organisasi kemahasiswaan di lingkungan jurusan Matematika FMIPA UNM.


1980: Awal Berdirinya

Organisasi kemahasiswaan di jurusan Matematika pertama kali terbentuk pada tahun 1980 dengan nama HMJ Pendidikan Matematika IKIP Ujungpandang, yang merupakan cikal bakal dari UNM. Pada masa ini, fokus organisasi adalah mewadahi aspirasi dan pengembangan potensi mahasiswa jurusan pendidikan matematika.


1999 – 2001: Perubahan Nama

Seiring dengan transformasi IKIP Ujungpandang menjadi Universitas Negeri Makassar (UNM), terjadi penyesuaian dalam struktur kelembagaan. Pada periode 1999 hingga 2001, HMJ Pendidikan Matematika resmi berubah nama menjadi Himatika FMIPA UNM. Perubahan ini menandai komitmen organisasi untuk terus berkembang sesuai dengan dinamika pendidikan tinggi.


2001 – 2003: Pemisahan Struktur Kelembagaan

Dalam upaya penyesuaian sistem organisasi kampus, antara tahun 2001 hingga 2003, lembaga kemahasiswaan di jurusan Matematika terbagi menjadi dua, yaitu:

1. BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Jurusan Matematika FMIPA UNM, dan

2. MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) Jurusan Matematika FMIPA UNM.

Periode ini menjadi masa penguatan peran masing-masing lembaga dalam mengakomodasi kebutuhan mahasiswa baik secara aspiratif maupun eksekutif.


2003 – 2017: Kembali Menjadi Himatika FMIPA UNM

Pada tahun 2003, struktur lembaga kemahasiswaan kembali disatukan dan mengusung nama Himatika FMIPA UNM. Nama ini digunakan kembali sebagai bentuk penguatan identitas kelembagaan dan memperkuat sinergi antar mahasiswa dalam satu himpunan yang solid.


2017 – Sekarang: HMJ Matematika FMIPA UNM

Memasuki tahun 2017, organisasi ini secara resmi mengubah nama menjadi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Matematika FMIPA UNM. Perubahan ini selaras dengan regulasi kelembagaan di tingkat fakultas dan universitas, serta bertujuan untuk mempertegas posisi dan fungsi organisasi dalam mendukung kegiatan akademik dan pengembangan diri mahasiswa Matematika FMIPA UNM.


Dengan semangat kebersamaan dan dedikasi dari setiap anggotanya, HMJ Matematika FMIPA UNM terus berupaya menjadi wadah yang responsif, progresif, dan solutif dalam menjawab tantangan zaman serta mendukung peningkatan kualitas mahasiswa di bidang akademik maupun non-akademik.


HMJ Matematika FMIPA UNM – Berkarya, Bersinergi, Berprestasi.

Dan semoga, dalam setiap langkah yang diukir, tetap terpatri kekuatan persatuan dan kobaran semangat yang tak pernah padam—menjadikan HMJ Matematika FMIPA UNM senantiasa satu dalam cita, teguh dalam karya, dan jaya sepanjang masa.

"Tetap Bersatu dan Jaya Selalu"


Selengkapnya

Sabtu, 26 Juli 2025